Cari Blog Ini

Selasa, 18 Februari 2014

pohon yahudi (ghorqod)


Bentuknya jauh dari indah, sebab bukan termasuk tanaman hias. Namun pohon ini termasuk salah satu “benda tak bernyawa” yang membangkang terhadap perintah Allah subhanahu wa ta’ala, sebab mereka melindungi Yahudi.


Tanda kiamat
Salah satu tanda dekatnya hari kiamat adalah diperanginya kaum Yahudi oleh kaum muslimin. Dan sebagai kabar gembira, kaum muslimin akan memperoleh kemenangan. Dari abu hurairah,
Buah pohon ausaj

Buah pohon ausaj
sesungguhnya Rasulullah shalallahu‘alaihi wassalam bersabda :
“Kiamat tidak akan terjadi sehingga kaum muslimin memerangi Yahudi, lalu kaum muslimin akan membunuh mereka sampai-sampai setiap orang Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon, tetapi batu dan pohon itu berkata, ‘wahai kaum muslimin, wahai hamba Allah ada orang Yahudi di belakangku, kemarilah dan bunuhlah dia.’ Kecuali (pohon) Gharqad karena ia adalah pohon Yahudi.” (Riwayat Muslim VII/188, Bukhari IV/51, Lu’lu wa al-Marjan III/308)

Gharqad di dunia maya

Imam an-Nawawi berkata, “Gharqad adalah sejenis pohon berduri yang dikenal di negeri Baitul Maqdis (Palestina). Disanalah Dajjal dan Yahudi (akan) di bunuh (yakni oleh Nabi Isa dan kaum muslimin). Ini merupakan ciri umum Gharqad, selanjutnya anda bisa mencarinya di dunia maya.

Jika anda memasukkan kata kunci “غرقد” ketika mencari di mesin pencari (google misalnya), dalam mode “cari gambar”, maka yang akan muncul cenderung pohon Ausaj (Lycium shawii/L.arabicum). Tumbuhan ini termasuk dalam famili terung-terungan (solanaceae). Penampakannya memang sangat mirip dengan Gharqad, tak mengherankan jika beberapa situs Arab menganggap bahwa Ausaj inilah pohon Gharqad, atau bisa juga mereka menyandarkan pendapat tersebut sesuai pendapat Abu Hanifah ad-Dinawari yang menyatakan “bila pohon Ausaj telah menjadi besar, maka disebut Gharqad.”

Gharqad (nitraria retusa)
Tapi, jangan berhenti sampai disitu. Coba ganti kata kunci anda dengan “pohon gharqad,” hasilnya memang tak sebanyak seperti menggunakan kata kunci pertama. Namun melalui kata kunci inilah, jati diri pohon Yahudi mulai terkuak. Gharqad mempunyai nama ilmiah Nitraria retusa. Tumbuhan ini masuk dlaam famili Zygophillaceae (lihat gambar). Gunakan nama ilmiah Gharqad itu sebagai kata kunci jika anda ingin mengetahui lebih lanjut.


Memang agak membingungkan jika kita melihat dalam Mu’jamul Wasith (salah satu kamus bahasa arab). Di situ diterangkan, Gharqad adalah pohon yang tingginya antara 1-3 meter. Tergolong famili terung-terungan, batang dan dahannya berwarna putih, mirip pohon Ausaj dari segi daunnya yang lunak dan dahannya yang berduri. Adapun bunganya berleher panjang dan berbau harum, berwarna putih kehijauan. Buahnya berbentuk kerucut dapat dimakan. dikenal juga dengan nama Gharqad.

Disatu sisi, kamus tersebut menyebutkan lebih rinci tentang Gharqad, namun mengapa disebutkan termasuk famili terung-terungan?

Buah pohon gharqad
Wallahu’alam. Yang jelas kalimat “…..mirip pohon Ausaj” menunjukkan bahwa gharqad bukanlah Ausaj.
Yahudi pun percaya!!

Diam-diam, Yahudi pun tahu dan percaya bahwa Gharqad merupakan salah satu “pelindung” mereka. Begitulah salah satu sifat mereka, iman pada sebagian kitab Allah, namun ingkar di sebagian yang lain. Memang, tidak diketahui secara pasti kapan kaum zionis israel mulai “mereboissasi” tanah Palestina dengan Gharqad.

Jika kita kebetulan mampir di situs Jewis National Fund (www.jnf.org), di bagian JNF store (tress for Israel Certificate), disebutkan bahwa tanah Palestina telah ditanami sebanyak 220 juta batang pohon Gharqad.

Tak cukup itu saja, mereka juga mengiklankan dalam situs tersebut bahwa siapa saja boleh membeli pohon Gharqad ini secara on line, lalu disumbangkan ke Israel untuk ditanam di Tanah Paletina. Mau tahu harganya? Sebatang pohon dihargai sebesar US$18, dan yang membeli tiga batang cukup membayar US$36 plus gratis satu batang.

Calon pembeli juga bisa memilih cara pengepakannya. Bisa pakai plastik atau peti kayu (tentu harganya beda). Sedangkan waktu pengirimannya, pembeli bisa memilih antara yang super cepat (sampai dalam waktu 2 hari), cepat (sekitar 3 hari), dan reguler. Tersedia juga sebuah nomor hubungan internasional untuk keterangan lebih lanjut. O ya, hanya dollar AS lho yang diterima sebagai alat pembayaran.

Nah, jika Yahudi saja tidak main-main dan secara serius menanggapi hadits tersebut, bukankah kita yang mengaku muslim selayaknya lebih mengimani tanpa harus “membenturkannya” dengan keterbatasan akal manusia?

YAHUDI DIBUNUH DI AKHIR ZAMAN
Orang-orang Yahudi di Israel telah menggunakan tanah Palestin untuk menanam sekitar 220 juta pokok berbagai jenis. Antara pokok yang ditanam itu adalah pohon Jujube (Atad, Gharqad atau Boxthorn). Ramai dari kalangan orang-orang Islam berpendapat bahawa tujuan mereka menanam Gharqad adalah kerana mereka percaya pada Hadis Sahih dari Rasulullah SAW yang menyentuh mengenai pohon tersebut, dan menanamnya agar mereka boleh bersembunyi di sebalik pohon itu apabila diburu oleh tentera-tentera Islam di bawah pimpinan Imam Mahdi dan Nabi Isa AS. Sama ada benar mereka banyak menanam pohon Gharqad untuk tujuan itu, hanya Allah Yang Maha Mengetahui. Tapi pohon Gharqad memang banyak tumbuh di Palestin dan Jordan, maksudnya jika tidak ditanam pun ia sudah ada sejak zaman dahulu.

APAKAH DIA POHON GHARQADIa adalah pohon Al-Auwasaj (). Berkata Al Qurthubi: Pohon Al-Auwasaj apabila sudah membesar ia dipanggil Al-Gharqad. Kata Imam Nawawi: Al Gharqad adalah pohon yang berduri sangat dikenali di Baitul Muqaddis (Palestine). (najhie.blogspot.com)Pohon Gharqad, adalah panggilan bagi pokok Yahudi dalam bahasa Arab. Dalam istilah botani, pokok Gharqad dikenali sebagai spesis Boxthorn, termasuk dalam keluarga Solanaceae yang terdiri lebih daripada 90 spesis. Nama-nama lain yang biasa digunakan untuk pokok ini ialah Desert Thorn, Christmas Berry, Wolfberry, Matrimony Vine, Tea Tree dan Goji.In the Muslim text Sahih Muslim, Book 041, Number 6985[3], the boxthorn, or gharqad, is described as 'the tree of the Jews' (en.wikipedia.org)Dalam bahasa Ibrani, pohon Gharqad disamakan dengan pokok Atad. Sarjana botani Prof. Michael Zohary dan Noga Hereuveni of Neot Kedumim yang mengkaji tumbuhan yang disebutkan dalam bible mengesahkan pokok Atad adalah sama dengan spesis Jujube.Jika pokok Jujube ini adalah pohon Gharqad seperti yang disebutkan dalam hadis, kemungkinan pernyataan yang mengatakan Yahudi sedang giat menanam pokok Gharqad adalah benar. Spesis Jujube adalah tumbuhan kedua terbesar ditanam di Israel selepas pokok Akasia. Spesis ini banyak tumbuh pada ketinggian kurang daripada 1500 meter dan boleh menyesuaikan diri dengan keadaan kering serta kekurangan air. Pokok Jujube juga ditanam dalam kawasan perumahan secara besar-besaran sebagai pokok hiasan.

"Tidak akan berlaku kiamat sehinggalah akan berlaku peperangan di antara orang Islam dan Yahudi, maka pada waktu itu (tentera) Yahudi akan dibunuh oleh (tentera) Islam, sehingga apabila orang Yahudi berselindung di sebalik batu dan pokok, lalu batu dan pokok itu akan bersuara dengan katanya: 'wahai muslim, wahai hamba Allah, di belakangku ini ada Yahudi, marilah bunuhnya', kecuali POKOK GHARQAD (yang tidak bersuara), kerana sesungguhnya ia merupakan pokok Yahudi". Hadis riwayat Imam Muslim (2922)

HIKMAH

Canda Para Ulama

1. Ada seorang pemuda penuntut ilmu pernah naik mobil bersama Syaikh al-Abani rahimahullah. Syaikh al-Abani mengemudi mobilnya dengan kecepatan tinggi. Melihatnya, maka pemuda itupun menegur:”Wahai Syaikh,ini namanya ‘ngebut’ dan hukumnya tidak boleh. “Syaikh ibnu Baz mengatakan bahwa hal ini termasuk menjerumuskan diri dalam kebinasaan. Mendengarnya, Syaikh al-Albani rahimahullah tertawa lalu berkata:”Ini adalah fatwa seseorang yang tidak merasakan nikmatnya mengemudi mobil!!.” Pemuda itu berkata: “Syaikh, akan saya laporkan hal ini kepada Syaikh Abdul Aziz bin Baz.” Jawab Syaikh al-Abani;”Silahkan,laporkan saja.”

Pemuda itu melanjutkan ceritanya: “Suatu sa’at, saya bertemu dengan Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah di Makkah maka saya laporkan dialog saya dengan Syaikh al-Abani rahimahullah tersebut kepada beliau.Mendengarnya, beliau juga tertawa seraya berkata: ‘Katakan padanya:”ini adalah fatwa seseorang yang belum merasakan enaknya terkena denda!” (Al-Imam Ibnu Baz,Abdul Aziz as-Shadan hlm.73)

2. Diceritakan bahwa suatu ketika Raja Khalid rahimahullah mengunjungi rumah Syaikh Ibn Utsaimin rahimahullah, sebagaimana kebiasaan para raja sebagai sikap menghormati dan memuliakan para ulama. Dan ketika sang Raja melihat rumah Syaikh yg sangat sederhana maka raja menawarkan kepada Syaikh untuk  dibangunkan sebuah rumah untuk beliau, Syaikh berterimakasih dan berkata:”Saya sedang membangun rumah di daerah As-Salihiyah (wilayah Unayzah, Qasim), bagaimanapun mesjidnya dan panti sosialnya membutuhkan bantuan (dana)”


Maka setelah sang Raja pergi, beberapa orang yg ikut dlm pertemuan itu berkata: “Wahai Syaikh, kami tidak mengetahui kalau anda sedang membangun rumah di As-Salihiyah?”


Maka Syaikh menjawab: “Bukankah pekuburan ada di As-Salihiyah?” (Ad-Dur Ath-Thamin Fi Tarjamti Faqihil Ummah Al-`Allamah ibn Utsaimin – p.218)

3. Ada salah seorang suami dari cucu Syaikh Ibnu Baz menemui beliau dan berkata, “Wahai Syaikh, kami ingin agar engkau mengunjungi dan makan di rumah kami”. Jawaban beliau, “Tidak masalah, jika engkau menikah untuk kedua kalinya maka kami akan datang ke acara walimah insya Allah”.

Setelah pulang, orang ini bercerita kepada istrinya tentang apa yang dikatakan oleh kakeknya. Kontan saja cucu perempuan dari Syaikh Ibnu Baz buru-buru menelpon kakeknya. “Wahai Syeikh, apa maksudnya?”. Ibnu Baz berkata kepada cucunya, “Kami hanya guyon dengan dia. Kami tidak mengharuskannya untuk nikah lagi. Kami akan berkunjung ke rumahmu meski tidak ada acara pernikahan”. (www.ustadzaris.com)

4. Abdullah bin Ali Al-Matawwu’ menceritakan bahwa dia menemani Syaikh Ibn Utsaimin (dari Unayzah) menuju Al-Bada-i yg jaraknya 15 km dari Unayzah untuk memenuhi undangan makan siang. 


Setelah makan siang, ketika mereka dlm perjalanan pulang mereka melihat seorang dgn jenggot berwarna merah (mungkin dicelup dgn hinna) dgn wajah tenang melambaikan tangan (mencari tumpangan).


Syaikh berkata: “Pelanlah! kita akan mengajaknya bersama kita”

Maka Syaikh berkata kpd orang itu: “Engkau mau kemana?” 

Orang itu menjawab: “Ajak aku bersama kalian ke Unayzah”

Syaikh berkata: “Dengan dua syarat, pertama engkau tidak boleh merokok, kedua engkau harus mengingat Allah”


Orang itu menjawab: “Masalah rokok, aku tidak merokok, walaupun tadi aku menumpang seseorang yg merokok dan (karena itu) aku minta diturunkan disini, dan tentang mengingat Allah maka tidak ada muslim kecuali dia mengingat Allah”


Maka orang itu naik ke mobil
(Terlihat jelas sepanjang perjalanan bahwa) orang itu tidak menyadari kalau dia sedang bersama Syaikh Ibn Utsaimin. Ketika tiba di Unayzah orang itu berkata:”Tunjukkan padaku rumah Syaikh Ibn Utsaimin, karena aku punya pertanyaan yg ingin aku tanyakan pada beliau” 


maka Syaikh berkata:”Kenapa tidak engkau tanyakan pada beliau ketika engkau bertemu dgn beliau di Al-Bada-i?” 


Orang itu berkata:”Aku tidak bertemu dgn beliau” 

Syaikh berkata:”Aku melihat sendiri engkau berbicara dgn beliau dan memberi salam kpdnya”


Orang itu berkata:”Engkau mempermainkan orang yg lebih tua dari orang tuamu!”

Syaikh tersenyum dan berkata kpdnya:”Shalat Ashar-lah di mesjid ini (Jami’ Unayzah) nanti engkau akan melihat beliau” 


Orang itu pergi tanpa mengetahui bahwa tadi dia sedang berbicara dgn Syaikh Ibn Utsaimin sendiri. Setelah dia selesai shalat Ashr, orang itu melihat Syaikh didepan selesaimengimami shalat jama’ah, maka dia bertanya (pada orang lain) tentang beliau, dan diberitahukan kpdnya bahwa Syaikh itu adalah Syaikh Ibn Utsaimin. Maka orang itu mendekati Syaikh dan meminta maaf karena tidak mengenali beliau tadi(diperjalanan), kemudian dia menyampaikan pertanyaannya. Syaikh pun menjawab pertanyannya, dan orang itu mulai menangis memohon kpd Syaikh.

(Al-Jami’ li Hayaat Al-`Allamah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin – p.38)

5. Jika ada seorang yang berkunjung ke rumah Syaikh Ibnu Baz rahimahullah, maka beliau pasti menawari orang tersebut untuk turut makan malam bersama beliau. Jika orang tersebut beralasan, “Wahai Syaikh, saya tidak bisa” maka dengan nama berkelakar Ibnu Baz berkata, “Engkau takut dengan istrimu ya?! Marilah makan malam bersama kami”. (www.ustadzaris.com)

6. Dalam pelajaran fiqih, ketika membahas tentang cacat di dalam pernikahan, seorang murid bertanya kepada Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah : “Wahai syaikh, bagaimana seandainya ada seorang laki-laki menikah, ternyata setelah itu ketahuan istrinya tidak punya gigi, bolehkah dia mencerainya?”

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjawab : “Itu istri yang sangat istimewa!! Karena dia tidak muungkin dapat menggigitmu!!” (Majalah al-Furqon)


7. Ketika Syaikh Ibnu Baz rahimahullah hendak rekaman untuk acara Nurun ‘ala Darb (acara tanya jawab di radio Al Qur’an Al Karim di Saudi), biasanya beliau melepas kain sorbannya dan dengan nada canda beliau berkata, “Siapa yang mau memikul amanah?”. Jika ada salah seorang yang ada di tempat tersebut mengatakan, “Saya” maka beliau berkata, “Silahkan ambil”. (www.ustadzaris.com)

8. Seseorang bertanya kepada Syaikh ‘Utsaimin rahimahullah: “Ada sebuah Hadist mengatakan : ‘Tidak ada pertaruhan dalam perlombaan kecuali lomba panah,atau onta, atau kuda’. Apa pendapat anda mengenai orang yang menyelenggarakan lomba untuk ayam dan merpati?”

Beliau menjawab: “Wallahi- Ya akhiy- Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam berkata “Tidak ada pertaruhan dalam perlombaan kecuali lomba panah,atau onta, atau kuda”.”As-Sabaq” disini bermakna “Al-’audh”(mengganti). Karena hal-hal ini membantu dalam kondisi peperangan. Karena ada faidah (manfaat) darinya.Pembuat syariat membolehkan berlomba pada hal tersebut.Apabila ayam mu bisa membantumu dalam peperangan bisa kau tunggani ,meninju (melompat) dan menggali..maka tidak mengapa, jika tidak maka jangan…..” (Liqo Bab Al-Maftuh pertanyaan ketiga,kaset No.200)


9. Seseorang bertanya kepada Syaikh ‘Utsaimin rahimahullah : “Apa hukum menggantungkan doa-doa di mobil seperti doa menaiki kendaraan atau safar dan lain sebagainya.Apa jawaban bagi yang berkata bahwa hal tersebut termasuk tamimah?”

Beliau menjawab: “Termasuk tamimah (jimat)? Saya katakan terhadap orang yang berkata bahwa hal ini tergolong tamimah: Sungguh telah benar, apabila mobilnya sakit!! Digantungkan doa-doa ini di mobil nya bukan di penumpangnya,dan diletakkan di mobilnya juga baik karena bisa mengingatkan penumpang dengan doa menaiki kendaraan.Atau dengan doa safar.Semua yang bisa membantu kebaikan maka hal itu baik.Saya tidak memandang menggantungknnya tidak boleh.Ini bukan termasuk tamimah kecuali sebagaimana saya katakan tadi :Jika mobilnya sedang sakit,kemudian digantungkannya doa-doa ini kemudian sembuh dengan idzin Allah!! Oleh karenanya perkara ini baik-baik saja! (Liqo As-Syahri ,kaset No.9 Side B)

10. Diceritakan oleh Ihsan bin Muhammad Al-Utaybi; Setelah selesai shalat di masjidil haram al-makki, Syaikh meninggalkan Al-Haram untuk pergi ke suatu tempat dgn mobil, maka beliau menghentikan sebuah taxi dan menaikinya. Dalam perjalanan, sang supir ingin berkenalan dgn penumpangnya, maka dia menanyakan:”(Nama)anda siapa wahai Syaikh?”

Syaikh menjawab:”Muhammad bin Utsaimin”

Dengan terkejut sang supir bertanya:”Syaikh Ibn Utsaimin?” karena mengira Syaikh berbohong kpdnya, sebab dia tidak menyangka seorang seperti Syaikh Ibn Utsaimin akan menjadi penumpang taxi nya.
Maka Syaikh menjawab:”Ya, Asy Syaikh”

Sopir taksi memutar kepalanya untuk melihat wajah Asy-Syaikh Al-Utsaimin Syaikh pun bertanya:”Siapakah (nama) kamu wahai saudaraku?”

Supir itu menjawab:”Saya Asy Syaikh Abdul`Aziz bin Baz!”

Syaikh pun tertawa dan menanyakan:”Engkau Syaikh Abdul`Aziz bin Baz?!!!”

Supir taxi itu menjawab:”Ya, seperti anda Syaikh Ibn Utsaimin”

Lalu Syaikh berkata:”Tapi kan Syaikh Abdul`Aziz bin Baz buta, dan beliau tidak menyetir mobil”


Seketika itu sang supir taxi mulai menyadari bahwa penumpang yg duduk disebelahnya benar-benar Syaikh Ibn Utsaimin. Dan sungguh kacau apa yg dia hadapi sekarang (salah tingkah).

(Safahat Musyiqah min Hayaatil Imam Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin – p.79 Ref:Al-Madinah ((Ar-Risalah)), nomor:13788)


11. Diceritakan oleh Abu Khalid AbdulKarim Al-Miqrin; Ketika di studio sedang melakukan rekaman acara “Pertanyaan melalui Telepon”, seorang saudara bernama Sa’d Khamis selalu berkata kpd Syaikh setiap kali selesai sesi rekaman:”Jazakallahu khairan wahai Syaikh, (dan semoga) Allah mengasihi kedua orang tua Anda”


(pada kesempatan kali ini) Syaikh berkata:”Aamiin ya Sa’d, dan untukku?”

Maka Sa’d barkata (lagi):”Semoga Allah mengasihi kedua orang tuamu”

Dan Syaikh menjawab (lagi):”Aamiin, dan untukku?”

Kemudian Sa’d Khamis menyadari apa yg dimaksud (oleh perkataan Syaikh), maka dia berkata:”Semoga Allah mengasihi Anda dan semoga Allah mengasihi kedua orang tua Anda dan semoga Allah membalas kebaikan Anda dgn sebaik-baik balasan”


Maka Syaikh pun tersenyum lalu tertawa, dan kita semuapun tertawa. (Arba`ah`asyar`aam ma`a Samahatiil-`Allamah Asy-Syaikh Ibn Utsaimin – p.63)

Subhanallah..Demikianlah canda para ulama, mereka bukan hanya ‘alim dalam ilmu syari’at, tapi dalam canda-pun penuh dengan hikmah. 


bX-gsnv35

Senin, 17 Februari 2014

Ancaman Berdusta Atas Nama Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam

Bismillaah..


Oleh
Ust Abdul Hakim bin Amir Abdat


Dalam masalah ini, kami tunjukkan sejumlah hadits-hadits shahih, tentang ancaman yang sangat berat dan adzab yang sangat mengerikan kepada para pendusta dan pemalsu hadits atas Nabi Shalallahu alaihi wasalam. 


Hadits-hadist tersebut ialah : 


........... "Man kadzaba a'laiya muta'ammidan palyatabawwa maq'adahu minannaar".
Artinya : Dari Abi Hurairah, ia berkata. Telah bersabda Rasulullah  Shalallahu alaihi wasalam "Barang siapa yang berdusta atasku (yakni atas namaku) dengan sengaja, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya (yakni tempat tinggalnya) di neraka". (Hadits shahih dikeluarkan oleh Imam Bukhari (1/36) dan Muslim (1/8) dll) 


Artinya : Dari Abi Hurairah, ia berkata. Telah bersabda Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam, "Barangsiapa yang membuat-buat perkataan atas (nama)ku yang (sama sekali) tidak pernah aku ucapkan, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya di neraka". (Hadits shahih dikeluarkan oleh Ibnu Majah (No. 34) dan Imam Ahmad bin Hambal (2/321))

Artinya : Dari Salamah bin Akwa, ia berkata. Aku telah mendengar Nabi Shalallahu alaihi wasalam bersabda : "Barangsiapa yang mengatakan atas (nama)ku apa-apa (perkataan) yang tidak pernah aku ucapkan, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya di neraka". (Hadits shahih riwayat Imam Bukhari (1/35) dll, hadits ini diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad (4/47) dengan lafadz yang sama dengan hadits No. 1,4,5,6 & 8)


Kemudian Imam Ahmad meriwayatkan lagi (4/50) dengan lafadz.

Artinya : "Tidak seorangpun yang berkata atas (nama)ku dengan batil, atau (ia mengucapkan) apa saja (perkataan) yang tidak pernah aku ucapkan, melainkan tempat duduknya di neraka". Sanad ini shahih atas syarat Bukhari dan Muslim. 


Artinya : Dari Anas bin Malik, ia berkata. Sesungguhnya yang mencegahku menceritakan hadist yang banyak kepada kamu, (ialah) karena Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam telah bersabda : "Barangsiapa yang sengaja berdusta atasku (yakni atas namaku), maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya di neraka". Hadits shahih dikeluarkan oleh Bukhari (1/35) dan Muslim (1/7) dll. 


Artinya : Dari Amir bin Abdullah bin Zubair dari bapaknya (Abdullah bin Zubair), ia berkata. Aku bertanya kepada Zubair bin 'Awwam : "Mengapakah aku tidak pernah mendengar engkau menceritakan (hadits) dari Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam sebagaimana aku mendengar Ibnu Mas'ud dan si fulan dan si fulan..? Jawabnya : Adapun aku tidak pernah berpisah dari Rasulullah sejak aku (masuk) Islam, akan tetapi aku telah mendengar dari beliau satu kalimat, beliau bersabda : "Barangsiapa yang berdusta atas (nama) ku dengan sengaja, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya di neraka". Hadits shahih, dikeluarkan Bukhari (1/35), Abu dawud (No. 3651) dan Ibnu Majah (No. 36 dan ini lafadznya) dll. 


Dua riwayat di atas dari dua orang sahabat besar Anas bin Malik dan Zubair bin 'Awwam, menunjukkan betapa sangat hati-hatinya para sahabat radliyallahu 'anhum dalam meriwayatkan hadits Nabi Shalallahu alaihi wasalam. 


Artinya : Dari Abdullah bin Amr, ia berkata. Sesungguhnya Nabi Shalallahu alaihi wasalam telah bersabda : "Sampaikanlah dariku meskipun satu ayat, dan ceritakanlah tentang Bani Israil dan tidak ada keberatan (yakni berdosa), dan barangsiapa yang berdusta atas (nama) ku dengan sengaja, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya (yakni tempat tinggalnya) di neraka". Hadits shahih, dikeluarkan oleh Bukhari (4/145) dan Tirmidzi (4/147 di Kitab Ilmu) dan Ahmad (2/159), 202 & 214) dll. 


Sabda Nabi Shalallahu alaihi wasalam." Ceritakanlah tentang Bani Israil dan tidak ada keberatan", yakni tidak berdosa selama itu baik menurut Syara'. 


Berkata Imam Malik. "Yang dikehendaki boleh menceritakan tentang mereka (Bani Israil) ialah dari urusan yang baik, adapun apa-apa yang telah diketahui dustanya tidak boleh". Demikian juga keterangan Imam Syafi'iy, hampir sama. (baca Al-Fathul Bari 7/309 syarah Bukhari). 


Saya (Abdul Hakim bin Amir Abdat) berpandangan : Bahwa cerita-cerita tentang Bani Israil itu ada tiga macam :
1.                   Yang telah diketahui kebenaran dan kesahihannya oleh Syara' dari perkara-perkara yang baik. Maka inilah yang dimaksud dengan sabda Nabi Shalallahu alaihi wasalam diatas.
2.                   Yang telah diketahui kebatilan dan kedustaannya oleh Syara'. Maka tidak boleh kita ceritakan, kecuali untuk menjelaskan kebatilan dan dustanya.
3.                   Yang tidak atau belum diketahui benar dan dustanya. Maka tidak boleh kita imani atau dustai, dan menceritakannya-pun tidak ada faedah sama sekali. (baca Tafsir Ibnu Katsir 1/4).
Artinya : Dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata. telah bersabda Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam. "Janganlah kamu berdusta atas (nama)ku.! Karena, sesungguhnya barangsiapa yang berdusta atasku, maka hendaklah ia memasuki neraka". Hadist shahih, riwayat Bukhari (1/35), Muslim (1/7), Tirmidzi (4/142 Kitabul Ilmi), Ibnu Majah (No. 3) dan Ahmad.

Artinya : Dari Mughirah (bin Syu'bah) radliyallahu 'anhu, ia berkata, Aku telah mendengar Nabi SAW bersabda : "Sesungguhnya berdusta atasku tidaklah sama berdusta kepada orang lain (selainku), maka barangsiapa yang berdusta atas (nama)ku dengan sengaja, hendaklah ia mengambil tempat tinggalnya di neraka". Hadist shahih riwayat Bukhari (2/81), Muslim (1/8) dan Ahmad (4/252).


Artinya : Dari Watsilah bin Asqa', ia berkata. telah bersabda Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam. 
"Sesungguhnya dari sebesar-besar dusta adalah, seorang menda'wahkan/mengaku (berbapak) kepada yang bukan bapaknya (yakni menasabkan diri kepada orang lain yang bukan bapaknya), atau (ia mengatakan) telah diperlihatkan kepada matanya apa yang (sebenarnya) matanya tidak pernah melihat (yakni ia mengaku telah bermimpi dan melihat sesuatu tetapi sebenarnya bohong).


Dalam riwayat yang lain di jelaskan, atau (ia mengatakan), telah diperlihatkan kepada kedua matanya dalam tidur mimpi) apa yang tidak dilihat oleh kedua matanya (yakni ia mengaku telah bermimpi sesuatu padahal dusta), atau ia mengatakan atas (nama) Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam apa yang beliau tidak pernah sabdakan". Hadits shahih, riwayat Bukhari (4/157) dan Ahmad (4/106) dan riwayat yang kedua, dari jalannya.


Artinya : Dari Abi Bakar bin Salim dari bapaknya (yaitu Salim bin Abdullah bin Umar) dari kakeknya (yaitu Abdullah bin Umar), ia berkata. Sesungguhnya Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam telah bersabda. "Sesungguhnya orang yang berdusta atas (nama)ku akan dibangunkan untuknya satu rumah di neraka". Hadist shahih, dikeluarkan oleh Imam Ahmad bin Hambal di musnadnya (2/22, 103 & 144) dan sanadnya shahih atas syarat Bukahri dan Muslim.


TAKHRIJUL HADITS

 Hadits "man kadzaba a'laiya" dan yang semakna dengannya tentang ancaman berdusta atas Rasullah Shalallahu alaihi wasalam, derajadnya MUTAWATIR. Telah diriwayatkan oleh berpuluh-puluh sahabat, sehingga dikatakan sampai dua ratus orang sahabat meriwayatkannya. Dan tidak satupun hadits mutawatir yang derajadnya lebih tinggi dari hadits "man kadzaba a'laiya". (baca : Syarah Muslim (1/68) An-Nawawi, Fathul Bari (1/213) Ibnu Hajar. Tuhfatul Ahwadziy syarah tirmidzi (7/418-420).

Saya (Maksudnya : Ust Abdul Hakim bin Amir Abdat) berpandangan : Bahwa banyaknya sahabat yang meriwayatkan hadits di atas memberikan beberapa faedah yang menunjukan :

1.                   Nabi Shalallahu alaihi wasalam sering menyampaikan dan mengulang-ulang sabdanya tersebut.
2.                   Perhatian yang besar para sahabat dalam memelihara, dan menjaga betul-betul sabda Nabi Shalallahu alaihi wasalam dan segala sesuatu yang disandarkan orang kepada beliau Shalallahu alaihi wasalam. Sehingga mereka saling berpesan dan berwasiat dan meriwayatkannya sesama mereka. Kemudian mereka menyampaikannya kepada Tabi'in dan Tabi'in menyampaikannya kepada Atba'ut Tabi'in dan seterusnya tercatat dan terpelihara dengan baik dan rapi di dewan-dewan Imam-imam Sunnah. Sehingga sepanjang pemeriksaan saya -hampir-hampir- tidak ada satupun Imam dari Imam-imam ahli hadits melainkan meriwayatkannya di kitab-kitab hadits mereka. Dari Amirul Mu'minin fil hadits Al-Imam Bukhari sampai Imam Ibnul Jauzi radiiyallahu 'anhum wa jazaahumullahu 'anil Islam khairan.
3.                   Ketinggian derajadnya dalam kesahihan dan kemutawatirannya dan mencapai tingkat teratas dalam martabat hadits-hadits mutawatir.
4.                   Kebesaran maknanya yang meliputi beberapa faedah dan sejumlah qaidah dan menutup pintu kerusakan-kerusakan yang besar dalam Agama ini, disebabkan berdusta atas nama Nabi Shalallahu alaihi wasalam.
LUGHOTUL HADITS
Sabda Nabi Shalallahu alaihi wasalam : ....palyatabawaa... = hendaklah ia mengambil

Artinya : Maka hendaklah ia mengambil untuk dirinya satu tempat tinggal (yakni di neraka). Dikatakan : Seorang mengambil tempat, (yakni) apabila ia mengambilnya sebagai tempat tinggalnya (tempat menetap atau rumahnya). Maka sabda Nabi Shalallahu alaihi wasalam. "Hendaklah ia mengambil tempat tinggalnya di neraka". bentuk perintah yang maknanya kabar, atau bermakna mengancam, atau maknanya mengejek dan marah, atau mendo'akan pelakunya yakni semoga Allah menempatkannya di neraka". (Al-Fath 1/211 dan syarah Muslim 1/68). Wallahu 'Alam.


SYARAH HADITS
Menurut Imam Nawawi (rahimahullahu) hadits ini meliputi beberapa faedah dan sejumlah qawaa'id, diantaranya :
1.                   Ketetapan tentang qa'idah dusta bagi Ahlus Sunnah. (akan datang penjelasannya).
2.                   Sangat besar pengharaman dusta atas nama beliau Shalallahu alaihi wasalam, dan merupakan kekejian dan kebinasaan yang sangat besar.
3.                   Tidak ada perbedaan tentang haramnya berdusta atas nama Nabi Shalallahu alaihi wasalam baik dalam masalah-masalah ahkam (hukum-hukum) atau bukan, seperti ; tarhib dan nasehat-nasehat dan lain-lain. Maka semuanya itu adalah haram dan sebesar besar dosa besar dan seburuk-buruk perbuatan menurut ijma' kaum muslimin.
4.                   Haram meriwayatkan hadits maudlu'/palsu atas orang yang telah mengetahui kemaudlu'annya atau berat sangkaan bahwa hadits tersebut maudlu'. Maka barangsiapa yang meriwayatkan satu hadits yang ia ketahui atau berat sangkaannya bahwa hadits itu palsu dan ia tidak menjelaskan kepalsuannya, maka ia termasuk kedalam ancaman hadist di atas dan tergolong orang-orang yang berdusta atas nama Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam.
Diringkas dari syarah Muslim 1/69-71 dan baca juga Al-Fath 1/210-214 & 7/310.
Dibawah ini akan saya jelaskan lebih luas lagi :

1. MAKNA DUSTA

Berkata Imam Nawawi di kitabnya Al-Adzkar (halaman 326) : "Ketahuilah ! Sesungguhnya menurut madzhab Ahlus Sunnah bahwa dusta itu ialah : Mengkabarkan tentang sesuatu yang berlainan (berbeda/menyalahi) keadaannya. Sama saja apakah engkau lakukan (dusta itu) dengan sengaja atau karena kebodohanmu (tidak sengaja), akan tetapi tidak berdosa kalau karena kebodohan (tidak sengaja) dan berdosa kalau dilakukan dengan sengaja". (baca juga syarah Muslim 1/69).

Berkata Al-Hafidz Ibnu Hajar di Al-Fath (1/211): Artinya : "Sesungguhnya dusta itu ialah : Mengkabarkan tentang sesuatu yang berlainan dengan keadaannya".


2. MAKNA BERDUSTA ATAS NAMA NABI Shalallahu alaihi wasalam

Berdusta atas nama Nabi Shalallahu alaihi wasalam ialah : menyandarkan sesuatu kepada beliau Shalallahu alaihi wasalam baik berupa perkataan (qaul), perbuatan (fi'il) atau taqriri (persetujuan beliau atas perbuatan atau perkataan sahabat) dan segala sesuatu yang disandarkan kepada beliau Shalallahu alaihi wasalam dengan cara berbohong/berdusta atas namanya Shalallahu alaihi wasalam. Sama saja, apakah masalah-masalah hukum atau targhib dan tarhib dan nasehat-nasehat atau tarikh/sejarah dan lain sebagainya. Semuanya adalah haram dan termasuk berbohong atas nama Nabi Shalallahu alaihi wasalam, sebagaimana penjelasan Imam Nawawi di atas (semoga Allah merahmatinya). 


Hadits atau riwayat dusta itu, Ulama kita menamakannya dengan "HADITS/RIWAYAT MAUDLU'/PALSU" yaitu : "Hadist yang dibuat-buat/diada-adakan/diciptakan orang secara dusta atas nama Nabi Shalallahu alaihi wasalam, baik dengan sengaja atau tidak sengaja". Tidak sengaja itu bisa dengan sebab kebodohan atau kekeliruan atau kesalahannya. Meskipun ia tidak secara langsung berdusta, tetapi tetap saja kabarnya dinamakan kabar maudlu' (palsu/bohong). Karena itu hadits-hadits tidak boleh diambil dari orang-orang jahil dan bukan ahlinya dan cacat lainnya sebagaimana telah diterangkan oleh Ulama-ulama ahli Hadits. (lebih lanjut bacalah Muqaddimah Imam Muslim di kitab sahihnya). (Baca : Muqaddimah Ibnu Shalah (halaman 47). Syarah Nukhbatul Fikr (halaman 80) Ibnu Hajar, Al Wadlu' fil Hadist (1/107), Taujihunnadazar ila Ushulil A-tsar (halaman 252). 


3. HUKUMNYA
Hadits-hadits diatas [tulisan kami bagian pertama] merupakan ancaman yang sangat berat dan mengerikan sekali terhadap para pemalsu dan pendusta-pendusta besar atas nama Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam. Untuk mereka Allah Jalla Jalaa Luhu telah menyediakan tempat tinggal berupa satu rumah di neraka, yang disitu mereka akan diadzab dengan adzab yang besar. Hal ini disebabkan karena :
1.                   Bahwa berdusta atas nama Rasullah Shalallahu alaihi wasalam adalah sebesar-besar dusta yang pernah dilakukan oleh manusia, sesudah berdusta atas nama Allah Jalla Jalaa Luhu, bahkan berdusta atas nama Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam sama dengan berdusta atas nama Allah Jalla wa'ala.
2.                   Berdusta atas nama Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam tidak sama dengan berdusta kepada orang lain (selain Nabi Shalallahu alaihi wasalam), kalau berdusta kepada orang lain telah berdosa (dosa besar menurut Ulama), maka bagaimana pandanganmu terhadap orang yang berbohong atas nama "seseorang" yang perkataan dan perbuatannya menjadi syariat dan diikuti oleh manusia ..? Dengan sendirinya si pendusta ini telah membuat syariat baru yang bukan syariat Nabi Shalallahu alaihi wasalam meskipun memakai nama beliau Shalallahu alaihi wasalam. Kemudian kebohongannya itu tersebar di permukaan bumi dan terus berkelanjutan yang diturut banyak manusia sampai hari qiamat. Dengan demikian terjadilah kerusakan yang sangat besar pada Agama dan dunia seperti timbulnya ajaran-ajaran syirik, khurafat-khurafat dan bid'ah-bid'ah,dsb.
Oleh karena kerusakannya demikian besar, maka Ulama-ulama kita telah berselisih pandangan dalam menghukuminya, menjadi dua madzhab :
1.                   Tidak mengkafirkannya, tetapi pelakunya telah mengerjakan sebesar-besar dosa besar dan seburuk-buruk perbuatan. Demikian pendapat jumhur menurut Imam Nawawi.
2.                   Tegas-tegas mengkafirkan orang-orang yang berdusta dengan sengaja dan mengetahui kedustaannya atas Nabi Shalallahu alaihi wasalam. Telah berkata Imam Ibnu Katsir : "Sebagian Ulama ada yang mengkafirkan orang yang sengaja dusta dalam hadits Nabi dan diantara mereka ada yang mewajibkan harus dibunuh". (Ikhtisar Ulumul Hadits : 102).
Sebagian Ulama tersebut ialah Imam Al Juwaini (bapaknya Imam Haramaian). Demikian keterangan Nawawi di syarah Muslim (1/69) dan Al-Hafidz Ibnu Hajar di Fath (91/212-213 & 7/310), kemudian Syaikh Ahmad Syakir dalam syarahnya atas kitab Ibnu Katsir (halaman 79). Dan kelihatannya Imam Ibnu Abdil Bar condong berpendapat mengkafirkannya. Demikian menurut Ibnu Hajar. Pandangan Imam Al Juwaini yang sangat tegas mengkafirkannya dan beliau nyatakan terus menerus di majelis-majelisnya telah dibantah dan dilemahkan oleh anaknya sendiri yaitu Imam Haramain, kemudian Imam Nawawi dan kelihatannya Ibnu Hajar pun condong melemahkannya. Tetapi menurut Syaikh Ahmad Syakir (seorang Ulama Ahli Hadits besar pada abad ini) bahwa pendapat Imam Juwaini itulah yang benar. Wallahu a'lam. 
Kemudian Ulama-ulama kita pun berselisih pendapat dalam menerima kembali riwayat-riwayat orang yang telah taubat dari memalsukan hadits Nabi Shalallahu alaihi wasalam. Apakah diterima kembali atau ditolak selama-lamanya..? Dalam masalah inipun terdapat dua madzhab :
1.                   Tidak diterima dan ditolak selama-lamanya meskipun ia telah taubat dengan taubat yang shahih. Demikian madzhab (pendapat) Imam Ahmad bin Hambal dan Ulama-ulama besar yang sefaham dengan beliau.
2.                   Diterima riwayatnya apabila ia telah taubat dengan taubat yang shahih. Dan Imam Nawawi telah membantah faham di atas (madzhab Imam Ahmad) dengan beberapa hujjah. (baca : Syarah Muslim/69).
Menurut tahqik Syaikh Ahmad Syakir yang rajih (kuat) ialah pendapat Imam Ahmad bin Hambal dan Ulama-ulama yang sefaham dengannya, sebagai peringatan dan ancaman yang sangat keras berdusta atas nama Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam, karena kerusakannya sangat besar dan akan menjadi syariat yang terus menerus sampai hari qiamat. Berbeda dengan dusta kepada selainnya dan saksi (palsu), karena kerusakan keduanya terbatas dan tidak umum. Maka tidak dapat dikiaskan/diibaratkan berdusta dalam meriwayatkan hadits dengan berdusta dalam saksi dan macam-macam maksiat yang lain.  Wallahu a'lam. (baca : Ikhtisar Ibnu Katsir halaman 101-102). 


4. SEBAB-SEBAB TERJADINYA PEMALSUAN HADITS
Adapun sebab-sebab yang membawa para pendusta untuk memalsukan hadits-hadits atas nama Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam banyak sekali, diantaranya : 


A. Kaum Zindiq
Yakni mereka yang berpura-pura Islam tetapi sesungguhnya mereka adalah kafir dan munafiq yang sebenarnya. Mereka adalah kaum yang sangat hasad dan benci terhadap Islam dan bertujuan merusak Agama ini dari dalamnya dengan berbagai macam cara. Diantaranya membuat hadits-hadits palsu banyak sekali. Lalu mereka tampil ditengah-tengah umat menyerupai Ulama, kemudian mereka sebarkan hadits-hadits buatan mereka dengan memakai nama Nabi Shalallahu alaihi wasalam. Tujuan mereka tidak lain untuk merusak syariat dan mempermainkan Agama Allah sekaligus menanamkan keraguan (tashqik) di hati kaum Muslimin khususnya masyarakat awam. 


Berkata Hammad bin Zaid seorang Atba'ut Tabi'in besar wafat tahun 190 H.
Artinya : "Kaum Zindiq telah memalsukan (hadits) atas (nama) Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam sebanyak empat belas ribu hadits". 


Ketika Abdul Karim bin Abi "Awjaa', salah seorang zindiq ditangkap dan akan dipenggal kepalanya oleh Muhammad bin Sulaiman Al-Abbaasiy (seorang pemimpin Basrah pada zaman khilafah Al-Mahdi, pada tahun 160 lebih), maka tatkala Abdul Karim telah yakin akan dibunuh, ia berkata :


 Artinya : "Demi Allah ? Sesungguhnya aku telah memalsukan pada kamu sebanyak empat ribu hadits palsu, aku haramkan padanya yang halal dan aku telah halalkan (perkara) yang haram".


Demikian juga Muhammad bin Said Asy-Syamiy Al-Maslub (yang mati disalib karena zindiqnya oleh Abu Ja'far Al-Manshur). Zindiq yang satu inipun telah memalsukan hadits sebanyak empat ribu hadits. Telah berkata Imam Nasa'i di akhir kitabnya "Adl-Dlua'afa' wal Matrukiin" (halaman 310) : "Para pendusta yang terkenal telah memalsukan hadits Rasulullah SAW, ada empat orang : Ibnu Abi Yahya di Madinah, Al-Waqidiy di Baghdad, Muqotil bin Sulaiman di Al-Khurasan dan Muhammad bin Said di Syam yang terkenal dengan (sebutan) Al-Mashlub (orang yang mati di salib). 


Saya berpandangan : Bahwa sepanjang penelitian saya hadits-hadits yang dipalsukan kaum zindiq itu terbagi kepada beberapa bagian :
1.                   Hadits-hadits palsu yang mengajak dan mengajarkan kepada syirik dengan macam-macam cabangnya.
2.                   Hadits-hadits palsu tentang bid'ah-bid'ah Agama dengan segala tingkatannya.
3.                   Hadits-hadits palsu yang menganjurkan kepada maksiat-maksiat.
4.                   Hadits-hadits palsu yang memperbodoh dan melemahkan umat terutama tentang jihad fi-sabilillah.
5.                   Hadits-hadits palsu yang merusak akal, adab dan pergaulan, dll.
B. Satu Kaum yang memalsukan Hadits karena mengikuti hawa nafsu
Mereka mengajak manusia mengikutinya untuk menyalahi Al-Kitab dan As-Sunnah. Seperti : Ta'ashub madzhabiyah, golongan/firqahnya, fahamnya, berlebihan terhadap Imam-imamnya, karena jenisnya, qabilah/sukunya, negerinya atau lughohnya/ bahasanya dan lain sebagainya. 


Berkata Abdullah bin Yazid Al-Muqriy (seorang Atba'ut Tabi'in besar gurunya Imam Malik, wafat tahun 148 H), "Sesungguhnya ada seorang laki-laki dari ahli bid'ah (yang dimaksud bid'ah aqidah) yang telah ruju' (kembali sadar) dari bid'ahnya, ia berkata : 


Artinya : "Perhatikanlah hadits itu dari siapa kamu mengambilnya ! Karena sesunggunya kami dahulu apabila berpendapat dengan satu pendapat, maka kami jadikan ia (pendapat kami itu) sebagai satu hadits (yakni kami palsukan mejadi hadits)". 


Berkata Abdullah bin Lahai'ah (wafat tahun 174H): "Aku telah mendengar seorang syaikh dari Khawarij yang telah taubat dan ruju', ia berkata : 


Artinya : "Sesungguhnya hadits-hadits ini adalah Agama, maka perhatikanlah dari siapa kamu mengambil agama kamu.! Karena sesungguhnya kami dahulu apabila condong kepada satu urusan (maksudnya faham yang setuju dengan bid'ahnya) niscaya kami jadikan ia sebagai satu hadits (kami palsukan menjadi hadits)".
Berkata Hammad bin Salamah (Atba'ut Tabi'in wafat 167 H): "Telah mengabarkan kepadaku seorang syaikh dari Rafidhah (Syi'ah), sesungguhnya mereka berkumpul (sepakat) untuk memalsukan hadits-hadits"


C. Satu kaum yang memalsukan hadits-hadits untuk tujuan yang baik menurut persangkaan mereka

Mereka buat hadits-hadits palsu tentang targhib dan tarhib dan nasehat-nasehat dan lain-lain. Mereka tidak merasa keberatan bahkan membolehkan dengan mengharap ganjaran dari Allah Jalla Jalaa Luhu .!? Kemudian mereka berkata. Kami tidak berdusta untuk merusak (nama atau Syari'at) Nabi Shalallahu alaihi wasalam tetapi untuk kebaikan beliau Shalallahu alaihi wasalam..!?


Hujjah mereka di atas menurut Ibnu Katsir menunjukkan sempurnanya kebodohan mereka, sedikitnya akal mereka, banyaknya dosa dan kebohongan mereka, karena Nabi Shalallahu alaihi wasalam tidak butuh kepada orang lain untuk kesempurnaan syariat dan keutamaannya. Mereka itu kaum yang menyandarkan diri mereka kepada zuhud dan sufi.


D. Qash-shaas (Tukang-tukang cerita)


Mereka yang memalsukan hadits-hadits dalam cerita-cerita mereka, untuk mencari uang dan supaya orang-orang awam (umum) takjub (terkesima).


F. Satu kaum yang memalsukan hadits pada waktu-waktu yang diperlukan


Seperti untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan, membela faham/pendapat, mencela atau marah kepada seseorang dan lain sebagainya.

[Baca : Al-Madkhal (halaman 51-59) Imam Hakim. Adl-Dlua'afaa' 91/62-66 & 85) Ibnu Hibban. Al-Maudlu'at (1/37-47) Ibnul Jauzi. Maj'mu Fatawa (18/46) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Ikhtisar Ibnu Katsir (halaman 78-88). Syarah Nukhbatul Fikr (halaman 84-85). Mizanul I'tidal (2/644) Adz-Dzahabi].

5. PERKATAAN/LAFADZ-LAFADZ/YANG MEREKA GUNAKAN


Para pendusta itu dalam memalsukan hadits menggunakan beberapa perkataan, diantaranya :

1.                   Mereka susun perkataan sendiri, lalu mereka sandarkan kepada Nabi Shalallahu alaihi wasalam.
2.                   Atau mereka ambil perkataan-perkataan ahli hikmah, orang-orang shalih, atau cerita-cerita Israiliyat dan lain-lain.
3.                   Atau Hadits yang dlo'if  sanadnya, kemudian mereka susun dan hiasi (yakni mereka palsukan) menjadi shahih sanadnya.
[Baca : Mukaddimah Ibnu Shalah (halaman 47), Syarah Nuhbatul Fikr (halaman 83) Ibnu Hajar].

6. CIRI-CIRI/TANDA-TANDA HADITS MAUDLU'

Diantara tanda-tanda bahwa hadits itu maudlu'/palsu, ialah :
1.                   Pengakuan dari pemalsu itu sendiri, seperti beberapa contoh diatas (baca juga Al-Madkhal (halaman 53) Imam Hakim).
2.                   Terdapat keganjilan dan rusak maknanya.
3.                   Bertentangan dengan apa yang telah tsabit dari Al-Kitab dan As-Sunnah, dll.
[Baca : Ikhtisar Ibnu Katsir dengan syarah Syaikh Ahmad Syakir (halaman 78) dan masalah ini telah dibahas dengan luas oleh Imam Ibnul Qoyim di kitabnya 'Al-Manaarul Munif Fish Shahih Wadlo'if] 


Tidaklah mudah untuk mengetahui hadits itu maudlu', dan bukan sembarang orang yang dapat menentukannya, kecuali Imam-imam ahli Hadits dan ulama-ulama yang mahir dan luas pengetahuannya tentang Sunnah. Memiliki kemampuan yang khusus tentang Sunnah/Hadits, Jarh dan Ta'dil serta Tarikh Rawi dan lainnya yang berhubungan dengan Ilmu Hadits yang mulia ini.

Adapun mereka yang tidak punya ilmu hadits yang mulia ini (As-Sunnah/Hadits), mereka hanya mendlo'ifkan atau menentukan hadits maudlu' karena hawa nafsu dan ra'yu-ra'yu mereka yang bathil dan menyalahi Al-Kitab dan As-Sunnah, mereka yang sehari-hari menggugat Sunnah yang shahih, maka mereka yang zhalim, penentang-penentang sunnah shahihah ini, sama sekali perkataannya tidak boleh didengar dan wajib ditentang dan dibuka kelemahan mereka dan memberikan penjelasan kepada umat akan tipu daya mereka yang sangat berbahaya.


7. PEMELIHARAAN TERHADAP HADITS/SUNNAH


Meskipun hadits-hadits itu telah banyak dipalsukan orang dan tidak sedikit hadits-hadits shahih didustakan, ditolak dan digugat, tetapi Allah Azaa wa Jalla tetap memelihara dan menjaganya, karena Ia telah berfirman :

Artinya : "Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan peringatan ini (Al-Qur'an), dan sesungguhnya Kamilah yang akan menjaganya". (Al-Hijr : 9).

Sewaktu Abdullah bin Mubarak (seorang Imam Mujahid besar dari Thabaqah Atba'ut Tabi'in, wafat tahun 181 H) ditanya tentang hadits-hadits maudlu' beliau menjawab bahwa nanti akan hidup orang-orang yang ahli dalam hadits yang akan membela (menjaga dan mempertahankannya), kemudian beliau membaca firman Allah di atas.


Pemeliharaan terhadap Hadits/Sunnah itu dimulai dari Thabaqah pertama, yaitu para Shahabat Radliyallahu 'Anhum. Thabaqah kedua dan ketiga yaitu : Tabi'in dan Atba'ut Tabi'in, kemudian datang Thabaqah keempat dan seterusnya. Maka bangkitlah Imam-imam Sunnah yang telah menyediakan hidup dan umur mereka untuk membela Sunnah Nabi Shalallahu alaihi wasalam, Mereka itulah Salafus Shalih dan Tha'ifah Manshurah yang selalu akan ada dalam umat ini.


Jazaahumullahu 'Anil Islam Khairan.